Pengelola Rumput Hijau dan Green Hauz Cafe, Zili, mengatakan kawasan tersebut memiliki luas sekitar 30 hektare. Dari total lahan itu, sekitar 14 hektare telah ditata dan dimanfaatkan untuk mendukung aktivitas wisata.
“Awalnya ini merupakan kawasan bekas tambang timah. Pemilik kemudian berinisiatif mengembangkan lahan tersebut menjadi tempat wisata dengan konsep hamparan rumput hijau,” kata Zili saat ditemui di lokasi, Sabtu (10/10/2026).
Saat ini, daya tarik utama kawasan tersebut adalah area terbuka hijau yang menawarkan suasana lapang dan pemandangan alam. Kehadiran Green Hauz Cafe yang baru resmi beroperasi turut melengkapi fasilitas bagi pengunjung yang ingin bersantai sambil menikmati makanan dan minuman.
Menurut Zili, panorama matahari terbenam menjadi salah satu daya tarik yang paling diminati pengunjung. Waktu terbaik untuk menikmati pemandangan tersebut berada pada sore hari, sekitar pukul 16.00 hingga 17.30 WIB.
Selain hamparan rumput dan pemandangan senja, kawasan ini juga masih mempertahankan area peternakan kerbau milik pengelola sebelumnya. Keberadaan peternakan tersebut menjadi bagian dari karakter kawasan yang memadukan ruang terbuka dengan aktivitas peternakan.
Ke depan, pengelola berencana menambah sejumlah fasilitas untuk memperluas pilihan kegiatan wisata. Beberapa rencana yang tengah dipertimbangkan meliputi area driving golf dan lokasi penyelenggaraan pernikahan terbuka atau outdoor wedding venue dengan suasana alami.
Meski demikian, pengembangan fasilitas akan dilakukan secara bertahap sesuai kesiapan kawasan.
Dari sisi akses, pengelola menerapkan kebijakan berbeda bagi warga setempat dan pengunjung dari luar wilayah. Masyarakat Desa Kace Timur dan Kecamatan Mendo Barat dapat memasuki kawasan tanpa dikenakan biaya masuk.
Sementara itu, pengunjung dari luar daerah dikenakan retribusi kendaraan sebesar Rp10.000 untuk sepeda motor dan Rp20.000 untuk mobil.
Zili menjelaskan, biaya tersebut dihitung berdasarkan kendaraan, bukan jumlah orang yang datang. Tiket masuk juga berbentuk voucher yang dapat ditukarkan dengan makanan atau minuman di minimarket yang tersedia di kawasan wisata.
Adapun jam operasional area Rumput Hijau dimulai sejak pagi hingga pukul 18.00 WIB. Sementara Green Hauz Cafe melayani pengunjung mulai pukul 11.00 WIB hingga pukul 21.00 WIB.
Pengelola belum menyediakan fasilitas berkemah bagi wisatawan. Luas kawasan yang cukup besar, keterbatasan sistem pengamanan, serta kebutuhan pemenuhan izin operasional menjadi sejumlah pertimbangan sebelum fasilitas tersebut dapat dibuka.
Di balik pengembangan kawasan wisata ini, pengelola berharap adanya dukungan dari pemerintah daerah, pemerintah desa, serta organisasi perangkat daerah terkait, terutama dalam proses perizinan dan pemenuhan persyaratan administratif.
Dukungan tersebut dinilai penting agar pengembangan dan operasional destinasi dapat berjalan sesuai ketentuan sekaligus memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.
“Kami berharap pemerintah daerah dan pemerintah desa dapat memberikan dukungan. Jangan sampai proses perizinan dan administrasi menjadi sulit, karena tujuan pengembangan wisata ini adalah memberikan dampak positif bagi daerah,” ujar Zili.
Kehadiran Rumput Hijau dan Green Hauz Cafe diharapkan dapat menjadi pilihan wisata baru di Kabupaten Bangka. Dengan pengembangan fasilitas yang berkelanjutan dan dukungan berbagai pihak, kawasan bekas tambang ini berpotensi menjadi ruang rekreasi yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat setempat.(*)










