“Memang kami melihat ada fenomena terkait masalah sagu. Dari hasil pemetaan kami di lapangan dan informasi para distributor, harga sagu melonjak cukup signifikan,” ujar M. Yasin, Sabtu (7/11/2026).
Menurut Yasin, salah satu faktor yang diduga menjadi penyebab kenaikan harga adalah terganggunya pasokan sagu dari luar Bangka. Hambatan distribusi tersebut berdampak terhadap ketersediaan barang di pasaran sehingga turut mendorong kenaikan harga.
Di tengah kenaikan harga sagu, kondisi berbeda justru terjadi pada komoditas cabai. Yasin menyebutkan harga cabai saat ini relatif masih terkendali karena kondisi cuaca panas turut mendukung produksi petani sehingga pasokan di pasaran cukup melimpah.
Meski demikian, pemerintah tetap mewaspadai potensi kenaikan harga cabai menjelang akhir tahun. Memasuki musim hujan, produksi cabai biasanya mengalami penurunan yang berisiko mengurangi pasokan dan memicu kenaikan harga.
“Yang kami khawatirkan itu di penghujung tahun. Biasanya saat musim hujan, harga cabai bisa melonjak cukup tinggi,” jelasnya.
Yasin mengatakan, apabila produksi cabai petani lokal tidak mampu memenuhi kebutuhan masyarakat, pasokan dari luar daerah dapat menjadi alternatif untuk menjaga ketersediaan komoditas tersebut di pasar Pangkalpinang.
Selama ini, pasokan cabai dari luar Bangka Belitung memang menjadi salah satu penopang kebutuhan pasar ketika produksi lokal tidak mencukupi.
Karena itu, Diskopdag dan UMKM Kota Pangkalpinang terus memantau perkembangan harga serta ketersediaan sejumlah komoditas pangan. Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi potensi gejolak harga, terutama menjelang akhir tahun ketika kebutuhan masyarakat cenderung meningkat.









