Ratna, yang akrab disapa Bunda Tudung Saji (BTS), menjelaskan bahwa peserta yang dipilih merupakan sanggar berpengalaman yang telah lama berkecimpung dalam pelestarian budaya. Pihaknya memprioritaskan kelompok yang masih mempertahankan bentuk kesenian tradisional, bukan pertunjukan yang telah banyak mengalami pengembangan ke arah semi-modern.
“Untuk Kentra Pangkal Festival 4 ini, kita menampilkan kesenian tradisional Pangkalpinang. Jadi, semuanya tradisional. Makanya yang ditampilkan adalah sanggar-sanggar yang sudah lama, bisa dibilang sanggar yang usianya di atas 10 tahun,” ujar Ratna, Sabtu malam (17/10/2026).

Dari lebih 60 sanggar seni yang ada di Pangkalpinang, sebanyak 30 sanggar dipilih untuk tampil dalam festival tersebut. Selain menyesuaikan konsep kegiatan, keterbatasan anggaran juga menjadi pertimbangan dalam menentukan jumlah peserta.
Meski demikian, Ratna mengapresiasi semangat para pelaku seni yang tetap berpartisipasi demi menjaga keberlangsungan kebudayaan daerah. Ia menyebut sebagian besar peserta tetap bersedia tampil meskipun tidak memperoleh uang saku.
Di tengah keterbatasan anggaran pemerintah daerah, dukungan dunia usaha menjadi salah satu faktor penting yang memungkinkan kegiatan kebudayaan tetap terlaksana.
Ratna mengungkapkan, sejumlah perusahaan di Pangkalpinang menunjukkan kepedulian terhadap pelestarian kearifan lokal melalui dukungan terhadap penyelenggaraan festival.
“Tanpa bantuan sponsor, kegiatan ini tidak akan berjalan. Dana yang tersedia melalui pagu anggaran pemerintah daerah sangat minim. Alhamdulillah, dunia usaha di Pangkalpinang ternyata memiliki perhatian terhadap kearifan lokal. Dengan semangat gotong royong beberapa perusahaan, kegiatan ini bisa terlaksana,” ungkapnya.

Ia berharap kolaborasi antara pemerintah dan pihak swasta dapat terus diperkuat agar kegiatan pelestarian budaya memiliki dukungan yang lebih berkelanjutan.
Selain melalui festival, Pemerintah Kota Pangkalpinang juga mengembangkan upaya pelestarian kebudayaan melalui dunia pendidikan.
Ratna menjelaskan, program kebudayaan berbasis sekolah telah dirintis sejak 2022 melalui inovasi daerah bertajuk Membangun Kebudayaan Daerah dari Sekolah. Inisiatif tersebut kini mencakup tujuh program, di antaranya Dambus Masuk Sekolah, Budayawan dan Sejarawan Masuk Sekolah, serta Pangkal Heritage Bekecak.
Program pengenalan permainan tradisional, seperti Gas Pangkal Begasing, juga menjadi bagian dari upaya memperkenalkan warisan budaya daerah kepada generasi muda.
Namun, keterbatasan anggaran membuat pelaksanaan program dilakukan secara bertahap. Pada 2026, Dambus Masuk Sekolah menjadi salah satu program prioritas untuk memastikan kesenian khas Pangkalpinang tersebut tetap dipelajari oleh para pelajar.
Program ini berlangsung selama tiga bulan, yakni Juli, Agustus, dan September 2026. Para siswa terlebih dahulu mengikuti pembelajaran di sekolah, kemudian menampilkan hasil latihan mereka dalam pagelaran Dambus Pelajar.
Untuk meningkatkan minat dan keterlibatan peserta, pelaksanaan Dambus Masuk Sekolah turut dikemas dalam bentuk perlombaan.
Menurut Ratna, kompetisi dapat memberikan motivasi tambahan bagi pelajar dan sekolah untuk terus berlatih. Dengan begitu, kegiatan tidak hanya menjadi ajang pertunjukan, tetapi juga mendorong proses pembelajaran dan pengembangan kemampuan seni secara berkelanjutan.
“Biasanya hanya ditonton saja. Saya pikir itu kurang greget dan tidak membuat orang bersemangat ke depannya. Akhirnya kita coba untuk dilombakan. Dengan dilombakan, sekolah justru ingin mengikuti berkali-kali,” ujarnya.
Ratna berharap dukungan dari berbagai pihak, termasuk dunia usaha, dapat terus ditingkatkan untuk menunjang keberlangsungan program kebudayaan di lingkungan pendidikan.
Melalui Kentra Pangkal Festival 4 dan program pelestarian budaya berbasis sekolah, Pemkot Pangkalpinang berupaya menjaga agar kesenian tradisional tetap hidup, dikenal, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.










