Membaca Fenomena LGBT dari Bangku Sekolah Dasar

Membaca Fenomena LGBT dari Bangku Sekolah Dasar

Oleh: Yoni Swastika Putri, SST, S.Pd., Gr / Guru SDN 13 Pangkalanbaru

PANGKALPINANG,VISSIONNEWS.COM- Dunia Pendidikan Dasar tidak hanya berhadapan dengan persoalan membaca, menulis, berhitung dan pencapaian akademik semata. Guru juga berhadapan dengan perkembangan kepribadian, pergaulan, emosi, pembentukan karakter, serta berbagai persoalan sosial yang ikut mempengaruhi kehidupan anak. Sebagai seorang guru sekolah dasar yang sebelumnya pernah berkecimpung dalam pekerjaan sosial, saya melihat bahwa persoalan perilaku anak membutuhkan cara pandang yang lebih luas. Anak bukan sekadar murid yang harus diberi nilai, melainkan manusia yang sedang tumbuh, belajar memahami dirinya, membangun hubungan dengan orang lain, dan mencari tempat yang aman untuk berkembang.

Salah satu persoalan sosial yang belakangan ini menjadi perbincangan di masyarakat adalah LGBT. Istilah ini mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kita, tapi belum tentu semua orang mengerti pengertiannya dengan tepat terutama ketika dikaitkan dengan anak-anak usia sekolah dasar. LGBT merupakan singkatan dari Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender. Secara umum, lesbian merujuk pada perempuan yang memiliki ketertarikan romantis atau seksual kepada perempuan. Gay umumnya merujuk pada laki-laki yang memiliki ketertarikan romantis atau seksual kepada laki-laki, meskipun dalam penggunaan yang lebih luas istilah gay juga dapat digunakan untuk homoseksualitas secara umum. Biseksual merujuk pada seseorang yang dapat mengalami ketertarikan romantis atau seksual kepada lebih dari satu jenis kelamin. Sementara transgender merujuk pada seseorang yang identitas gendernya berbeda dari jenis kelamin yang ditetapkan ketika ia lahir.

Keempat istilah tersebut tidak sepenuhnya menggambarkan hal yang sama. Lesbian, gay, dan biseksual berkaitan dengan orientasi seksual, yaitu kepada siapa seseorang dapat mengalami ketertarikan. Sementara transgender berkaitan dengan identitas gender, yaitu bagaimana seseorang memahami dan menghayati identitas gendernya. Karena itu, LGBT bukan sekadar istilah untuk menggambarkan satu jenis perilaku tertentu. Didalamnya terdapat persoalan mengenai orientasi seksual dan identitas gender yang pada orang dewasa dapat menjadi bagian dari identitas dirinya. Pemahaman inilah yang menurut saya penting dimiliki oleh guru. Bukan agar guru dapat memberikan label kepada anak, tetapi agar guru tidak keliru membaca perilaku anak dan tidak mengambil kesimpulan yang terlalu jauh dari apa yang sebenarnya terjadi.

Ketertarikan sesama jenis sebenarnya bukan persoalan baru dalam sejarah manusia. Dalam perspektif Islam, kisah kaum Nabi Luth menjadi bagian penting dari pembelajaran agama mengenai perilaku seksual yang dilarang dalam ajaran Islam. Namun, kita juga perlu berhati-hati ketika menggunakan istilah modern seperti LGBT untuk menjelaskan peristiwa sejarah tersebut. Istilah LGBT merupakan istilah modern dengan pengertian sosial dan psikologis tertentu. Karena itu, tidak tepat apabila seluruh konsep identitas LGBT masa kini disamakan begitu saja dengan konteks masyarakat pada zaman Nabi Luth.

Bagi seorang guru, dalam hal ini persoalan yang lebih penting adalah bagaimana memahami perkembangan anak dan memberikan pendampingan yang tepat. Jangan terburu-buru memberikan label kepada Anak. Di sekolah dasar, kita dapat menemukan berbagai bentuk kedekatan antaranak. Anak laki-laki dapat sangat dekat dengan teman laki-laki. Anak perempuan dapat sangat dekat dengan teman perempuan. Mereka bisa saling menyayangi, ingin selalu bersama, saling berpelukan, bergandengan tangan, meniru perilaku teman, mengagumi kakak kelas, atau merasa sangat dekat dengan sahabatnya. Dalam beberapa kasus, mungkin juga muncul rasa ingin tahu atau ketertarikan terhadap teman dengan jenis kelamin yang sama. Sebagian orang mungkin langsung menyebutnya sebagai LGBT.

Menurut saya, disinilah kita harus berhati-hati. Kedekatan, persahabatan, rasa kagum, rasa ingin tahu, atau bahkan pengalaman ketertarikan sesama jenis pada masa kanak-kanak tidak otomatis berarti seorang anak memiliki identitas LGBT atau pasti akan memiliki orientasi seksual tertentu ketika dewasa. Perkembangan seorang anak sangat kompleks. Anak sedang mengalami perkembangan emosi, sosial, psikologis, dan fisik. Apa yang tampak sebagai suatu perilaku tertentu belum tentu memiliki makna yang sama seperti perilaku orang dewasa. Sebagai guru, kita tidak bisa langsung menyimpulkan bahwa seorang anak adalah gay, lesbian, biseksual, atau transgender hanya dari perilaku yang kita lihat di sekolah. Dari pengalaman saya sebagai pekerja sosial, saya belajar bahwa perilaku anak perlu dilihat dan dipahami terlebih dahulu, bukan langsung diberi label.

Guru adalah orang dewasa yang bisa dijadikan tempat berlindung setelah orang tua di rumah. Maka guru harus mampu memberikan rasa aman dan nyaman sebagai sosok yang dapat dipercaya. Guru harus bisa membedakan antara perilaku yang perlu diarahkan dan identitas anak yang tidak boleh ditempelkan secara gegabah. Jika terdapat perilaku yang tidak sesuai dengan aturan sekolah, guru dapat memberikan batasan secara tegas tetapi tetap tenang dan mendidik. Anak dapat diberikan pemahaman tentang kesopanan, batasan tubuh, privasi, pergaulan yang sehat, penghormatan terhadap diri sendiri dan orang lain, serta nilai moral yang dianut sekolah dan keluarga. Tegas tidak harus kasar. Mendidik tidak harus mempermalukan. Dan memberikan batasan tidak harus membuat anak merasa ditolak.

Pendidikan tentang tubuh dan perlindungan diri sangat penting walaupun masih ada anggapan bahwa berbicara mengenai tubuh, batasan diri, dan perlindungan dari pelecehan berarti mengajarkan seks kepada anak. Padahal kedua hal tersebut adalah hal yang berbeda. Anak SD membutuhkan pendidikan yang sesuai dengan usia dan tingkat perkembangannya. Mereka perlu mengetahui bahwa tubuh mereka berharga dan harus dijaga. Mereka perlu mengetahui bagian tubuh yang bersifat pribadi. Mereka perlu belajar mengatakan “tidak” ketika mendapatkan sentuhan yang membuat mereka tidak nyaman. Mereka perlu memahami bahwa tidak seorang pun boleh memaksa mereka melakukan sesuatu terhadap tubuhnya dan kepada siapa mereka harus bercerita ketika mengalami sesuatu yang membuat mereka takut, bingung, atau tidak nyaman. Pendidikan semacam ini merupakan bagian dari perlindungan anak.

Guru juga perlu menghindari sikap berlebihan. Persahabatan sesama jenis merupakan bagian yang wajar dalam kehidupan anak. Anak perempuan yang sangat dekat dengan sahabat perempuannya tidak berarti ia mempunyai orientasi seksual tertentu. Begitu pula anak laki-laki yang sangat dekat dengan sahabat laki-lakinya. Kita tidak boleh mengubah persahabatan menjadi kecurigaan. Yang perlu mendapat perhatian lebih serius adalah apabila terdapat perilaku berupa pelecehan, pemaksaan, eksploitasi, perundungan, tindakan seksual yang tidak sesuai dengan usia, atau situasi lain yang dapat membahayakan anak. Dalam kondisi seperti itu, sekolah harus bertindak secara serius dan mengikuti prosedur perlindungan anak yang berlaku.

Tugas guru adalah mendidik, melindungi, membimbing, dan membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang sehat secara fisik, emosional, sosial, dan moral. Nilai agama tetap harus diajarkan kepada anak mengenai pergaulan, kesopanan, kehormatan tubuh, tanggung jawab, batasan pergaulan, dan nilai-nilai kehidupan sesuai dengan keyakinan yang dianut. Dalam perspektif Islam, misalnya, anak dapat dikenalkan secara bertahap dengan nilai tentang fitrahnya sebagai ciptaan Allah, menjaga kehormatan diri, menjaga pergaulan, menutup aurat, menghormati sesama, serta memahami batasan antara laki-laki dan perempuan sesuai usia dan tahap perkembangannya. Namun, menyampaikan nilai agama tidak harus dilakukan dengan kebencian kepada orang yang berbeda. Anak dapat diajarkan bahwa kita mempunyai keyakinan dan prinsip moral tertentu, sekaligus tetap menghormati martabat setiap manusia dan ini merupakan salah satu pendidikan karakter yang dapat ditanamkan oleh seorang guru. Memiliki prinsip tidak berarti harus merendahkan orang lain.

Guru membutuhkan pengetahuan, bukan sekadar kekhawatiran dalam menghadapi fenomena sosial yang berkembang di masyarakat. Maka guru dituntut untuk terus belajar agar dapat mendidik dan membimbing anak sesuai dengan zamannya. Guru perlu memahami perkembangan psikologi anak, perlindungan anak, pendidikan karakter, pengaruh media sosial, perundungan, pelecehan seksual, perkembangan emosi, serta dinamika pergaulan anak. Jangan sampai seorang guru mengambil keputusan hanya berdasarkan informasi dari media sosial, video pendek, atau istilah yang sedang viral. Sebagai mantan pekerja sosial, saya belajar satu hal penting: Di balik perilaku seorang anak selalu ada konteks yang perlu dipahami. Anak yang mencari perhatian mungkin sedang membutuhkan kasih sayang. Anak yang meniru perilaku tertentu mungkin sedang meniru sesuatu yang dilihatnya. Anak yang mengalami kebingungan mungkin membutuhkan orang dewasa yang mau mendengarkan. Dan anak yang melakukan perilaku yang tidak tepat mungkin membutuhkan batasan yang jelas sekaligus pendampingan yang baik. Karena itu, sebelum memberikan penilaian, bertanyalah terlebih dahulu: apa yang sebenarnya terjadi?

Sekolah dan keluarga harus berjalan bersama karena persoalan perkembangan anak tidak mungkin diselesaikan oleh guru sendirian. Ketika terdapat kekhawatiran yang serius, guru sebaiknya berkomunikasi dengan orang tua secara tertutup, tenang, dan penuh kehati-hatian. Jika diperlukan, sekolah dapat melibatkan konselor, psikolog anak, atau tenaga profesional lain yang kompeten. Yang harus dihindari adalah menghakimi anak terlebih dahulu kemudian mencari penjelasan belakangan. Mari kita ubah pendekatan kita.

Bukan: “Anak ini LGBT atau bukan?”

Melainkan: “Apa yang sedang dialami anak ini? Apa yang ia butuhkan? Dan bagaimana kita dapat membimbingnya dengan benar?”

Guru adalah pendidik yang mempunyai tanggung jawab besar dalam membantu anak memahami dunia. Kita boleh mempunyai nilai moral dan agama yang kuat. Kita boleh mengajarkan batasan yang jelas. Kita boleh mengatakan bahwa perilaku tertentu tidak sesuai dengan nilai yang kita ajarkan. Namun, semua itu harus dilakukan dengan ilmu, kasih sayang, keteladanan, dan penghormatan terhadap martabat anak. Sebab anak-anak bukanlah label. Mereka adalah manusia yang sedang bertumbuh. Hari ini mereka mungkin belum memahami dirinya. Hari ini mereka mungkin meniru temannya. Hari ini mereka mungkin melakukan kesalahan. Hari ini mereka mungkin sedang mencari perhatian dan penerimaan. Dan tugas kita sebagai orang dewasa bukan buru-buru menentukan siapa mereka kelak tetapi memastikan mereka tumbuh dalam lingkungan yang aman, mendapatkan pendidikan yang benar, memiliki fondasi moral yang kuat, mampu menghargai dirinya sendiri dan orang lain, serta memiliki orang dewasa yang dapat mereka percaya ketika menghadapi persoalan dalam hidupnya. Karena mendidik anak bukan hanya tentang membuat mereka pintar. Mendidik adalah tentang membantu mereka tumbuh menjadi manusia yang baik.

Share

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *