Menurutnya, masih ada warga yang membutuhkan operasi katarak, tetapi belum mengetahui adanya program pelayanan kesehatan gratis tersebut. Karena itu, ia mengajak media untuk ikut membantu menyampaikan informasi agar kesempatan ini dapat dimanfaatkan oleh lebih banyak masyarakat.
“Target kita adalah 800 pasien dan mudah-mudahan semua bisa kita selesaikan dengan baik,” kata Rudianto.
Ia menjelaskan, pelaksanaan operasi direncanakan berlangsung selama empat hari. Apabila masih ada pasien yang belum tertangani, jadwal kegiatan berpeluang diperpanjang hingga 30 Oktober 2026.
Program kali ini menyasar masyarakat dari lima kabupaten di Pulau Bangka. Adapun warga di Belitung direncanakan kembali mendapatkan layanan serupa pada tahun depan, meskipun jadwal pelaksanaannya masih dapat berubah.
Untuk mendukung pelayanan tersebut, sebanyak 27 personel tim medis dari Cicendo, Bandung, diterjunkan ke Bangka. Tim ini berperan dalam mendukung pemeriksaan hingga pelaksanaan tindakan operasi bagi pasien yang memenuhi persyaratan medis.
Rudianto mengungkapkan, jadwal kedatangan tim medis sempat terkendala keterlambatan penerbangan. Akibatnya, proses skrining di Bangka Selatan dan Bangka Barat mengalami penyesuaian waktu. Kendati demikian, seluruh agenda pemeriksaan tetap dapat dilaksanakan.
Bagi Yayasan Rudi Center dan PDI Perjuangan, kegiatan ini merupakan pelaksanaan bakti sosial operasi katarak gratis yang kesembilan. Berdasarkan data yang disampaikan Rudianto, program tersebut secara keseluruhan telah membantu sekitar 6.000 pasien menjalani operasi katarak.
Ia berharap jumlah penerima manfaat terus bertambah, baik melalui kegiatan yang sedang berlangsung maupun program lanjutan di wilayah Belitung.
Rudianto menegaskan, kegiatan sosial tersebut merupakan bagian dari komitmen untuk menghadirkan politik yang berorientasi pada kepentingan masyarakat. Menurutnya, perjuangan politik semestinya diwujudkan melalui tindakan nyata yang dapat membantu meningkatkan kesejahteraan rakyat.
“Berpolitik itu adalah kemanusiaan, untuk kemanusiaan. Berpolitik itu memperjuangkan hak-hak rakyat dan untuk menyejahterakan rakyat kita,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa pelayanan kepada masyarakat harus diberikan tanpa membedakan latar belakang sosial maupun afiliasi politik. Setiap warga yang membutuhkan penanganan katarak dipersilakan memanfaatkan program tersebut sesuai ketentuan medis yang berlaku.
“Kita tidak memilih golongan, kita tidak memilih warna-warna partai. Siapa saja boleh dipersilakan datang dan mengikuti operasi katarak ini,” tegasnya.
Selain pelaksanaan operasi, Rudianto turut menyoroti pentingnya ketersediaan layanan kesehatan mata yang mudah dijangkau masyarakat. Menanggapi kebutuhan fasilitas khusus mata di Belitung, ia menilai pelayanan operasi katarak tidak harus selalu bergantung pada keberadaan rumah sakit khusus.
Menurutnya, rumah sakit atau fasilitas kesehatan yang memiliki dokter spesialis mata serta sarana dan kemampuan untuk melakukan operasi juga dapat berkontribusi dalam memberikan pelayanan kepada pasien.
Melalui program ini, Rudianto berharap kendala biaya tidak lagi menjadi penghalang bagi warga yang membutuhkan penanganan katarak. Ia ingin semakin banyak masyarakat di Bangka Belitung memperoleh akses terhadap layanan kesehatan mata sehingga dapat kembali menjalankan aktivitas sehari-hari dengan penglihatan yang lebih baik.










