Dalam kompetisi tersebut, Naila mengangkat gagasan tentang pentingnya menciptakan lingkungan perguruan tinggi yang aman, nyaman, dan terbebas dari segala bentuk kekerasan. Ia membawakan orasi berjudul “Menyuarakan yang Terbungkam: Saatnya Kampus Menjadi Ruang Aman”.
Melalui orasi itu, Naila mengajak seluruh elemen perguruan tinggi untuk meningkatkan kepedulian terhadap korban kekerasan serta mengambil peran aktif dalam mencegah berbagai bentuk kekerasan di lingkungan pendidikan.
Lomba tingkat nasional ini diselenggarakan oleh Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (Satgas PPK) Universitas Negeri Padang (UNP) bersama Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial (BEM FIS KM UNP).
Mengusung tema “Lawan Kekerasan, Jaga Sesama: Mahasiswa Bergerak, Kampus Aman”, kompetisi berlangsung pada 1–3 November 2026. Setelah melewati tahapan seleksi, Naila diumumkan sebagai salah satu dari empat peserta terbaik pada 4 November 2026.
Selanjutnya, mahasiswi asal Sungailiat, Kabupaten Bangka, tersebut dijadwalkan mengikuti babak final secara langsung pada Senin (9/11/2026). Pada kesempatan yang sama, panitia juga akan mengumumkan pemenang akhir perlombaan.
Bagi Naila, keberhasilannya menembus empat besar bukan sekadar pencapaian pribadi. Lebih dari itu, kesempatan tersebut menjadi pengalaman berharga untuk mengembangkan kemampuan diri sekaligus menunjukkan bahwa mahasiswa dari Bangka Belitung mampu bersaing di tingkat nasional.
Ia mengaku sangat bersyukur dapat melangkah hingga babak final, terlebih kompetisi tersebut menjadi salah satu pengalaman penting dalam perjalanan awalnya sebagai mahasiswa.
“Saya sangat bersyukur bisa lolos ke babak final lomba orasi ilmiah. Lomba ini menjadi pengalaman berharga bagi saya pada awal perjalanan saya menginjak dunia perkuliahan untuk tumbuh dan berkembang, sekaligus membawa nama baik Universitas Bangka Belitung di tingkat nasional,” ungkap Naila.
Dukungan keluarga dan dosen juga menjadi motivasi tersendiri bagi Naila dalam mengikuti kompetisi tersebut. Ia ingin membuktikan bahwa mahasiswa daerah memiliki kesempatan yang sama untuk tampil, menyampaikan gagasan, dan meraih prestasi di panggung nasional.
“Motivasi saya adalah ingin membanggakan orang tua dan para dosen yang memberikan dukungan secara penuh, sekaligus membuktikan bahwa mahasiswi dari Bangka Belitung mampu menyuarakan gagasan di forum nasional,” tuturnya.
Menjelang babak final, Naila mengaku optimistis dapat memberikan hasil terbaik. Meski demikian, ia memilih untuk lebih fokus mematangkan persiapan agar mampu tampil maksimal.
“Soal juara, saya optimistis, tetapi yang paling penting bagi saya ialah berusaha mempersiapkan diri semaksimal mungkin untuk memberikan penampilan terbaik karena tidak ada usaha yang mengkhianati hasil,” ujarnya.
Keberhasilan Naila menembus empat besar finalis menjadi bukti bahwa mahasiswa UBB memiliki potensi besar untuk berkontribusi dalam forum akademik nasional. Prestasi tersebut juga menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya dapat berperan dalam kegiatan akademik di lingkungan kampus, tetapi juga mampu membawa gagasan dan menyuarakan persoalan sosial yang relevan dengan kehidupan masyarakat.
Melalui orasi yang dibawakannya, Naila berharap semakin banyak mahasiswa berani bersuara terhadap persoalan kekerasan serta turut membangun budaya kampus yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, keadilan, dan penghormatan terhadap hak setiap individu.
Kini, Naila bersiap menghadapi babak final pada 9 November 2026. Ia berharap dapat memberikan penampilan terbaik dan membawa pulang prestasi yang membanggakan, sekaligus mengharumkan nama Universitas Bangka Belitung di tingkat nasional.









