Mengangkat tema Pejuang Keluarga, Ibrahim mengajak para wisudawan untuk tidak hanya memaknai kelulusan sebagai pencapaian pribadi, tetapi juga sebagai keberhasilan bersama keluarga yang selama ini memberikan dukungan dalam perjalanan pendidikan mereka.
Sebanyak 655 lulusan dari jenjang diploma, sarjana, dan magister mengikuti prosesi wisuda tersebut. Momen ini sekaligus menjadi penanda berakhirnya satu tahapan pendidikan dan dimulainya perjalanan baru dalam menghadapi kehidupan serta dunia kerja.
Dalam sambutannya, Ibrahim menegaskan bahwa kesempatan memperoleh gelar akademik merupakan sesuatu yang patut disyukuri. Sebab, keberhasilan tersebut tidak terlepas dari peran orang tua dan keluarga yang telah memberikan dukungan, baik secara moral maupun material.
“Di balik kisah kita hari ini, ada tulang punggung yang sangat kuat menyanggah kita,” demikian pesan yang disampaikan Rektor dalam materi sambutannya.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa perjalanan mahasiswa hingga mencapai kelulusan tidak pernah berdiri sendiri. Ada orang tua dan keluarga yang berjuang, bekerja keras, serta memberikan doa agar anak-anak mereka dapat menyelesaikan pendidikan dan meraih masa depan yang lebih baik.
Selain menyoroti besarnya peran keluarga, Ibrahim juga mengingatkan bahwa keberhasilan seorang lulusan tidak cukup hanya diukur dari gelar akademik yang diperoleh.
Menurutnya, kemampuan intelektual harus diimbangi dengan kekuatan mental dan integritas moral. Ketiga hal tersebut menjadi bekal penting bagi para lulusan dalam menghadapi berbagai tantangan setelah meninggalkan lingkungan kampus.
Ia menjelaskan, selama menempuh pendidikan, perguruan tinggi telah memberikan bekal berupa pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman. Namun, setelah menyelesaikan studi, setiap lulusan memiliki tanggung jawab untuk menentukan arah kehidupan dan masa depannya masing-masing.
Karena itu, para wisudawan diharapkan mampu menjadi pribadi yang mandiri, adaptif terhadap perubahan, serta berani mengambil keputusan dengan tetap berpegang pada nilai-nilai kebenaran dan tanggung jawab.
Ibrahim juga berpesan agar seluruh lulusan senantiasa menjaga nama baik almamater. Menurutnya, identitas sebagai bagian dari Universitas Bangka Belitung merupakan tanggung jawab moral yang harus tetap melekat meskipun para lulusan telah menyelesaikan pendidikan.
“Jagalah nama baik almamater karena Anda besar dan tumbuh menjadi orang cerdas dan terpelajar dari rahim Universitas Bangka Belitung,” tutupnya.
Melalui Wisuda ke-38 ini, UBB tidak hanya melepas ratusan lulusan untuk memasuki babak baru kehidupan, tetapi juga mengingatkan pentingnya menghargai perjuangan keluarga, menjaga integritas, serta membawa nilai-nilai pendidikan dalam kehidupan bermasyarakat.
Gelar akademik yang diraih diharapkan menjadi awal bagi para lulusan untuk berkarya, berkontribusi, dan memberikan manfaat bagi keluarga, masyarakat, serta daerah.(*)









