Mengusung tema “Mewujudkan Desa Informatif dan Harmonis melalui Penguatan Komunikasi, Keterbukaan Informasi, dan Kolaborasi Masyarakat dengan Mahasiswa”, sosialisasi ini menjadi wadah untuk bertukar gagasan sekaligus memperkuat hubungan antara perguruan tinggi dan pemerintah desa.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Kepala Biro Akademik, Kemahasiswaan, dan Kerja Sama (BAKK) UBB, Hesty, S.Si., M.Pd. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya komunikasi dan pertukaran gagasan antara perguruan tinggi dengan pemerintah desa untuk meningkatkan kualitas pelayanan informasi publik.
“Kami berharap melalui sosialisasi ini, UBB dapat memperoleh berbagai ide dan inovasi dari aparatur Desa Balunijuk, Pagarawan, dan Jade Bahrin yang dapat menjadi masukan dalam pengembangan dan peningkatan kualitas layanan informasi di UBB,” ujar Hesty.
Sementara itu, Kepala Urusan (Kaur) Perencanaan Desa Balunijuk, Nuryadi, yang hadir mewakili Kepala Desa Balunijuk, menyampaikan pentingnya ketertiban administrasi kependudukan, khususnya bagi pendatang baru yang tinggal di lingkungan desa, termasuk mahasiswa UBB.
Ia menjelaskan, setiap pendatang diwajibkan melaporkan diri dalam waktu 1 x 24 jam dengan menyerahkan dokumen identitas. Pemilik rumah kos juga berkewajiban melaporkan data identitas penghuni kepada pemerintah desa guna mendukung ketertiban administrasi dan menjaga keamanan lingkungan.
Sosialisasi tersebut turut dihadiri Kaur Umum Desa Jade Bahrin, Siti Zulaiha, serta Kaur Perencanaan Desa Pagarawan, Setia Ariska. Kehadiran perwakilan dari tiga desa ini memperluas ruang diskusi mengenai tata kelola administrasi, pelayanan informasi, dan dinamika kehidupan masyarakat di sekitar kampus.
Selain keterbukaan informasi, persoalan sosial akibat perkembangan kawasan kampus juga menjadi salah satu pembahasan utama. Dosen Sosiologi UBB, Herza, S.Sos., M.A., memaparkan materi bertajuk “Balunijuk sebagai Lokus Hunian Mahasiswa UBB: Menakar Potensi dan Persoalan Sosial yang Muncul”.
Dalam pemaparannya, Herza menjelaskan bahwa pertumbuhan UBB turut membawa perubahan terhadap kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat Balunijuk.
Ia memaparkan, pada 2010 UBB memiliki sekitar 1.000 mahasiswa dengan 19 program studi. Jumlah tersebut meningkat menjadi sekitar 4.000 mahasiswa dengan 20 program studi pada 2020. Hingga 2026, jumlah mahasiswa UBB telah mencapai sekitar 11.000 orang dengan 36 program studi.
Pertumbuhan tersebut memberikan dampak terhadap aktivitas ekonomi masyarakat. Berbagai usaha seperti rumah kos, rumah makan, kafe, hingga pusat jajanan semakin berkembang seiring meningkatnya jumlah mahasiswa yang tinggal dan beraktivitas di kawasan Balunijuk.
“Sekarang makin banyak kegiatan mahasiswa, makin banyak rumah makan, rumah kos, tempat kafe dan pusat jajanan. Makin banyak perputaran uang di Balunijuk,” ungkap Herza.
Meski memberikan dampak ekonomi positif, perkembangan tersebut juga menghadirkan tantangan sosial. Perbedaan kebiasaan, pola komunikasi, serta penyesuaian terhadap nilai dan norma masyarakat setempat menjadi hal yang perlu diperhatikan dalam kehidupan bersama.
Karena itu, Herza menilai diperlukan komunikasi yang baik dan sikap saling menghormati antara mahasiswa dan masyarakat agar tercipta lingkungan yang harmonis.
Ia juga mendorong pemerintah desa untuk membuka ruang kerja sama dengan mahasiswa UBB dalam berbagai kegiatan pemerintahan maupun pemberdayaan masyarakat. Dengan demikian, keberadaan mahasiswa diharapkan tidak hanya memberikan dampak ekonomi, tetapi juga berkontribusi terhadap pembangunan desa.
Dalam kegiatan tersebut, peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai keterbukaan informasi publik, mulai dari hak masyarakat dalam memperoleh informasi, kewajiban badan publik menyediakan layanan yang transparan dan akurat, hingga pemanfaatan media komunikasi seperti website desa.
Materi lainnya mencakup tugas dan fungsi PPID, klasifikasi informasi publik, pengelolaan dokumentasi, serta prosedur pelayanan informasi. Pemahaman tersebut dinilai penting untuk mendukung terwujudnya pemerintahan desa yang transparan, akuntabel, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
Sebagai tindak lanjut, berbagai masukan, gagasan, dan inovasi yang dihimpun dari aparatur Desa Balunijuk, Pagarawan, dan Jade Bahrin akan disampaikan kepada pimpinan UBB sebagai bahan pertimbangan dalam pengembangan layanan PPID.
Masukan tersebut diharapkan dapat menjadi dasar evaluasi sekaligus mendorong inovasi pelayanan informasi publik, terutama dalam meningkatkan kemudahan akses informasi dan kualitas pelayanan kepada masyarakat.
Melalui sosialisasi ini, PPID UBB berharap terbangun sinergi yang semakin kuat antara perguruan tinggi dan pemerintah desa. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu menciptakan lingkungan yang harmonis, memperkuat keterbukaan informasi, serta mendorong kontribusi mahasiswa dalam pembangunan masyarakat di sekitar kampus.(*)









